February 25, 2017

Walk Off The Earth: Menyusuri 3 Permaisuri Lintas Laut Selatan

Sudah pernah ke pantai selatan Malang? Mulai sekarang sudah terdapat Jalur Lintas Selatan, lho! Jalur Lintas Selatan (JLS) ini menghubungkan pantai-pantai yang ada di selatan Malang sehingga Anda tidak perlu menembus hutan untuk mengunjungi deretan pantai sekaligus.

Setidaknya itu yang saya rasakan kemarin Sabtu. Bersama Bobby, saya berkesempatan mengunjungi deretan pantai sekaligus sembari melaju kembali pulang karena lebih efisien dan memang nyatanya demikian. Saya jadi lebih mengenal berbagai nama pantai yang tidak pernah saya dengar sebelumnya!

Perjalanan pertama dimulai dari pertigaan Sendang Biru ke arah JLS. Pantai pertama yang ditemui adalah Clungup, tetapi karena sudah pernah jadi skip. Oh ya, sepanjang perjalanan di JLS ini Anda akan disuguhi pemandangan bukit kapur yang indah dan jalanan berliku sehingga tidak membosankan.

Pantai selanjutnya adalah Watu Leter. Nama pantai ini tertulis besar di sebuah tebing yang mencolok sehingga menarik perhatian saya. Segera kami arahkan sepeda ke jalur masuk, namun naas: medan yang harus ditempuh berupa tanah lempung yang masuk ke sela ban maupun mesin tanpa ampun. Kami terjebak selama 30 menit dan berkat bantuan dari warga sekitar kami bisa membersihkannya. Catatan: Kalau mau ke Watu Leter, sepeda harap dititipkan ke warung tepat di depan jalur masuk.

Beres dengan sepeda, kami melaju kembali dan berhenti di pantai pertama kami:

UNGAPAN



Terletak tidak jauh dari Watu Leter, pantai Ungapan sudah dikelola dengan baik selama 5 tahun terakhir sehingga memiliki fasilitas lengkap seperti musholla maupun kamar mandi. Selain itu sebagian wilayah Pantai Ungapan berumput hijau sehingga cocok dijadikan lokasi piknik maupun camping. Terdapat wilayah parkir dan lapangan bermain voli, sehingga kami yang berpakaian traveller seperti tersesat di kumpulan ibu-ibu piknik.




Karena baru saja berurusan dengan tanah lempung yang luar biasa lengket, kami berdua sangat antusias menuju permukaan air dan terkejut ketika pasir pantai berwarna hitam. Tidak seperti pantai lain, pasir di Ungapan cenderung lebih halus dan pekat. Ombak juga cukup ganas, terlebih kami kesana saat gerimis dan angin sangat tidak bersahabat. Terdapat perbedaan ketinggian antara pantai dan lahan piknik yang lebih rendah, sehingga disarankan untuk meletakkan barang di lahan piknik agar tidak berhamburan diterpa angin.







Di samping pantai terdapat laguna berwarna cokelat yang aman untuk berendam. Kapal berkapasitas 10 orang siap mengantar Anda menyusuri mangrove dengan berbagai keindahan alami dengan membayar 75.000 per kapal.








Puas dengan Pantai Ungapan, kami segera beranjak agar tidak terus disayat angin (TAS KAMERA SAYA TERDORONG SEKITAR 4 METER DARI LOKASI AWAL) dan berhenti tepat setelah pantai Bajul Mati menemui:

PARANGDOWO


Sesuai namanya, pantai ini menyuguhkan suasana pantai berbatu dengan karang panjang sebagai pemecah ombak. Di balik karang panjang terdapat kolam-kolam untuk berenang bahkan tub-bathing.

Pasir di sini putih namun berbatu. Banyak ikan mudskipper berlarian karena langkah bocah yang bermain 'Hoki Kerang'. Terdapat karang besar di ujung pantai dimana para pemancing biasa duduk menunggu tangkapan. Anda juga dapat mendaki bukit untuk mendapat pemandangan pantai dari ketinggian.








Usai menyantap makan siang dengan sandwich sembari dibumbui garam uap air laut, kami segera beranjak. Kali ini perjalanan agak jauh, karena beberapa pantai lain sudah dipenuhi bis-bis wisata perusahaan maupun sanak famili dari luar kota. Kami menemukan pantai dengan jalur masuk sempit sehingga agak sepi, yaitu:

NGUDEL


Rupanya pantai masih jauh dari gapura, melewati jalanan berkelok dikelilingi pepohonan pisang. Ada 1 pantai tersembunyi di jalur tersebut, tapi karena akses sulit kami memilih ke Ngudel. Sesampainya di Ngudel, pantai sudah ramai dan menggemakan musik dangdut dengan genset sebagai hiburan. Saya sedikit terkejut, tidak ada lagi pantai perawan di Malang, mereka menjadi pantai biduan.

Pantai Ngudel memiliki pasir paling putih dari 2 sebelumnya. Pantai ini membentang panjang dan terdapat beberapa karang raksasa yang mengahalau ombak sehingga lebih bersahabat daripada Ungapan. Tapi tetap saja dilarang berenang di pantai ini, ya.











Akomodasi: Dari kota Malang ambil jalur ke SendangBiru. Sesudah kira-kira 2 jam perjalanan Anda akan betemu sebuah pertigaan dengan jalan yang luas. Ambil ke arah jalur tersebut karena merupakan Jalur Lintas Selatan. Sekitar 3 km dari pertigaan Anda akan menemui Ungapan yang sudah terawat seperti pantai ria. Melaju agak jauh terdapat pantai kecil di samping bukit yaitu Parangdowo. Melaju agak jauh sekitar 5 km Anda akan menemui gerbang Pertama kecil di kiri jalan menuju ke Pantai Ngudel. Biaya: Karena semua sudah dikelola Perhutani, masing-masing pantai dikenai biaya Rp 5000 per orang dan kendaraan motor Rp 10.000. Fasilitas: Terdapat fasilitas yang lengkap di Pantai Ungapan seperti air bersih, mushola, camping ground, dan pujasera. Untuk Pantai Parangdowo hanya terdapat lahan parkir saja. Pantai Ngudel menawarkan kamar mandi dan musholla serta penjual degan yang bisa Anda temui hampir di setiap sudutnya.

January 29, 2017

Tumbuh Bersama Komunitas, Bukan Kompetitas

Beberapa waktu yang lalu, saya menemui diri saya sendiri.

Ia terpuruk dan berlutut. Menangis.

Saya kebingungan. Saya coba menyapanya. “Hai.” Dan ia meremas kepalanya, menyisakan pening yang kurasakan. “Ya saya tahu. Kita gagal.”



Penolakan adalah hal yang dibenci semua orang, termasuk saya. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang bahagia dengan penolakan – fresh graduates kepada perusahaan, pemuda remaja kepada kekasinya, kakek-nenek kepada cucunya – dan kukira bagian terburuk dari penolakan adalah fase bangkit-nya. Bagaimana ia dapat bertahan dari kegagalan dan berusaha membuat kehidupan yang lebih baik.

Dua minggu lalu, saya benar-benar jatuh. Saya tidak lolos dari seleksi BEM fakultas dan tidak lolos wawancara kerja part-time. Keduanya sangat saya inginkan – saya belum menorehkan bakti kepada fakultas melalui organisasi dan saya membutuhkan pengalaman kerja secara profesional. Ironisnya, kedua hal tersebut terjadi secara bersamaan tepat ketika saya tidak siap menerima hal itu. Saya menunduk dan terdiam di kamar. Tidak ada cara lain untuk mencoba karena saya berpikir ‘Kesempatan tidak datang dua kali’. Lebih-lebih, saya berpikir ‘Kukira aku lebih baik dari orang lain, aku tidak sanggup melihat mata meremehkan mereka.’

Di saat itulah saya menemukan diri saya sendiri. Diri saya yang angkuh dan optimis karena pengalaman yang saya miliki tidak dapat membantu untuk menggapai sesuatu yang tampaknya sederhana. Ia putus asa; ia tak tahu bahwa hal-hal dapat bekerja di luar dugaannya. Aku terdiam saat itu, karena nampaknya tenggelam dalam kesedihan merupakan sesuatu yang nikmat.

Ya, tenggelam dalam kesedihan adalah ilusi paling manis yang pernah ditawarkan pada manusia. Penipu ulung bertirai ganda: “Saya tidak bisa apa-apa” atau “saya mau saja bangkit tapi sudah tidak ada harapan”. Menggali kekuatan diri sendiri, membandingkan, lalu menyalahkan orang lain adalah bumbu pelengkap terbaik yang menambah citarasa putus asa.



Hingga aku sadar itu salah.

Ketika saya belajar bahwa asetmu satu-satunya adalah dirimu sendiri, bukan karena orang lain. Berlarut duka terlalu lama tidak akan mengubah waktu, begitu pula dengan stagnansi yang hanya bisa ditangisi untuk kemudian hari. Pelan-pelan saya berusaha mengajak diri saya yang lain bangkit, dan ia awalnya menolak. “Tidak ada harapan,” katanya. “Kita adalah delegasi terburuk yang hidup pernah tawarkan.” Wajahnya begitu buruk rupa, tapi saya menatapnya. Saya berusaha meyakinkannya, berbenah diri adalah kuncinya. Menempa diri adalah konsepnya.

Perlahan saya bergerak keluar. Seolah semua hal tampak berbeda. “Itu karena kau dicap sebagai orang yang gagal,” ujar diriku yang satu lagi. “Kubilang, kita adalah kegagalan.” Segera kutepis pikiran itu; tidak lama kemudian saya bertemu dengan salah satu teman yang pernah mengejar tujuan yang sama – dan ia berhasil. Ia menyapa saya dengan senyum, dan melanjutkan aktifitas seperti biasa.

Tidak ada rasa keraguan atau sikap “Hai, pecundang” padaku. Ia adalah teman saya sebelumnya, dan sampai sekarang. Begitu pula dengan teman-teman lain. Mereka tetap memberikan dukungan atas apa yang saya lakukan tanpa memandang apakah saya adalah orang yang gagal. Tidak ada. Diri saya yang satu lagi salah.

Begitu pula dengan rekan kerja saya yang mendapat tawaran pekerjaan tersebut. Awalnya saya begitu canggung menatapnya, tetapi dia adalah orang baik yang tetap akan menjadi teman saya. Ia memberikan dukungan ketika tahu saya tidak lolos bersamanya, bahkan mendorongku untuk tidak kalah dengannya. Saya terperanjat; karena saya kira dia adalah pesaing saya. Tidak; dia adalah kawan saya dalam berproses.

Saya beranikan diri untuk menghubungi teman saya yang merupakan salah satu pengurus BEM. Perlahan, saya memijat papan tombol virtual untuk menyusun kata, “Bisakah kau jelaskan apa yang menjadi pertimbanganmu dalam tidak memilihku?”. Kuletakkan ponsel dan melakukan hal lain agar tidak terbebani. Dua menit kemudian bergetar. Saya berdegup ragu ketika mulai membuka pesan, dan di luar dugaan ia menjelaskannya dengan sangat baik dan ramah. Seperti tidak terjadi apa-apa; seperti saat ia bercakap denganku sebagai kawan karib sehari-hari.

Saya berhembus lega dan merebahkan punggung di sandaran kursi. Saya berhasil menghilangkan pikiran kompetitif saya, sebuah racun yang mematikan harapan karena manusia tidak akan pernah berhenti bersaing. Saya mulai bergerak, dan saya memantapkan hati untuk mengukur kemampuan dari diri saya yang lalu. Indikator kemajuan bukanlah apa yang saya hasilkan dibanding orang lain, tetapi dibanding diri saya sebelumnya.

Kompetitif mengakibatkan saya lupa akan kehadiran teman-teman saya. Mereka tiada henti mendukung saya secara rohani. Mereka membantu saya mencari kegiatan yang mampu mengembangkan diri saya agar saya menjadi lebih baik. Saya membuat resolusi ringan namun progresif, dan berusaha menggali bidang-bidang yang kiranya saya mumpuni. Semua itu saya lakukan dengan bantuan kawan-kawan yang bersedia untuk berbagi. Sesuatu yang dulu kesulitan saya lakukan karena minder dan takut akan omongan negatif yang disematkan pada saya.



Tidak ada titik yang membuat saya bersyukur akan kehadiran teman-teman lebih dari saat ini. Mereka, yang dulunya saya anggap akan mentertawai saya ketika mendapat kegagalan, justru menjadi fondasi kokoh dalam memantapkan pilihan. Kawan dengan hobi yang sama – mereka justru memberi saran yang membangun dan mau berbagi ilmu dengan saya; sesuatu yang dulu saya tidak berani untuk lakukan. Begitu pula dengan kawan yang lebih mendapat kesempatan berkembang – mereka tetap terbuka dan mau membantu saya dalam berbagai hal. Bukan kompetisi yang membangun dirimu, tapi komunikasi.

Di akhir kata, manusia memang tidak bisa melepaskan dirinya dari gengsi. Apalagi media sosial telah menggembar-gemborkan persaingan mulai dari konten tweet, jawaban ask.fm, hingga feed instagram. Semua ingin menjadi ‘paling’, semua tidak ingin ada yang sama ‘paling’-nya. Kesampingkanlah. Bukankah kita perlu membentuk koneksi untuk saling apresiasi, bukan rival kompetisi unuk saling mengkritisi?

#CommunityNotCompetition

-Terinspirasi dari The Photographer's Manifesto oleh Ben Sasso-