“Apa kabar angkot hari ini?” tanya saya di suatu petang saat turun di terminal kota Malang. Cukup terkejut ketika mereka kini berpindah lokasi ngetem atau menunggu di depan terminal dibandingkan dulu di bagian dalam. Jajaran mobil biru dengan inisial dua hingga tiga huruf menanti dengan sabar para penumpang yang turun dari bus. Seorang sopir dengan handuk basah di lehernya berteriak, “Dua lagi berangkat! Dua lagi berangkat!”
Angkot atau angkutan kota adalah cara saya memanggil transportasi umum (transum) lokal di Malang sejak dulu. Saat saya bersekolah, menaiki angkot sama normalnya seperti menaiki bus Transjakarta atau MRT di ibukota. Beruntungnya, saya juga tinggal di dekat terminal sehingga saya bisa percaya diri bersaing dengan Wikipedia jika diminta menghafalkan rute-rute angkot.
Tidak ada halte; semua bisa naik dan turun dimana saja selama tidak ada preman atau Satpol PP (atau petugas-petugas yang tiba-tiba muncul, elah). Sebagai mobil penumpang yang dimodifikasi, kapasitasnya cukup oke meski harus berdesakan atau mungkin duduk di pinggir pintu (favorit saya, jujur). Bahkan tidak jarang bisa duduk di samping sopir — sebuah tahta untuk ekstrovert sejati atau introvert yang malang.
Angkot, selayaknya transum lainnya, adalah liminal space alias tempat transisi dari rumah ke kerja, sekolah ke rumah, dan satu tempat ke tempat lainnya yang tidak hanya menghubungkan lokasi, namun juga masyarakat. Ketika kamu duduk, di sebelahmu bisa jadi adalah pedagang kasur dengan tumpukan kapuk yang lumayan kalau dibuat bersandar. Depanmu bisa jadi pak Kyai yang baru pulang dari Masjid Jami’. Condong kiri sedikit ada copet pakai kacamata hitam dan kumis seperti mas Adam, yang Alhamdulillah, saya bisa cekatan mencegah mereka dua kali saat mau meraih handphone saya.
Taksi kemana? Selayaknya sinetron Indosiar, taksi adalah gambaran masyarakat kelas atas saat itu. Kami memiliki merk taksi kebanggaan Malang yang tidak ada hubungannya dengan burung, tetapi kami hanya menggunakannya saat benar-benar kepepet atau hujan deras.
Kemewahan adalah dijemput di depan rumah.
Selebihnya, naik angkot adalah means to an end. Ya kalau mau berangkat kemana naik angkot. Anak sedari kecil diajarkan menaiki angkot. Pilihannya naik motor sendiri atau naik angkot.
Goncangan
12 tahun lalu, saya merantau ke Surabaya untuk kuliah. Di momen yang sama muncul sebuah gerakan disruptif baru yang tentunya menyalakan api perlawanan bagi lini transum: ojek online.
Bagi Anda yang sudah cukup sober di tahun 2015-2016 dengan isu-isu, pastinya tidak lupa bagaimana ojek online atau ojol mulai diprotes oleh berbagai pekerja di sektor transum. Saat itu belum ada bis kota sekaliber Transjakarta di Malang atau Surabaya.
Bagaimana tidak? Ojol menawarkan sebuah konsep kunci yang tidak bisa dipenuhi oleh angkot: dijemput di rumah. Dia bukan taksi — kamu tetap kepanasan kalau naik ojol sepeda motor, tetapi kamu langsung diantar ke lokasi tanpa perlu memikirkan jurusan atau pun menunggu angkot untuk datang. Dia tidak mewah (saat itu) — tetapi ojol juga menghadirkan rasa aman dan nyaman yang seringkali hilang dengan angkot… yang ironisnya mungkin disebabkan oleh sopir itu sendiri.
Gelombang pasang surut pun mulai menghantam transum lokal baik di Surabaya (bus kota dan lyn) serta Malang (angkot). Saya pun sudah lama tidak menaiki bus kota di Surabaya semenjak munculnya ojol, namun dalam 2-3 tahun setelah itu muncul transportasi seperti Suroboyo Bus yang menawarkan alternatif angkutan massal dengan harga yang lebih murah. Sepertinya ini juga jawaban pemerintah untuk mengantisipasi harga ojol yang tentu tidak begitu inklusif.
Sekarang
Kemarin, saya mencoba menggali jawaban dari pertanyaan saya di awal. Sebagai orang yang ber-privileged tinggal di dekat terminal, kenapa tidak kita coba menaiki angkot untuk mengunjungi sahabat saya, Rong? Rumah Rong cukup dekat dengan jalur utama sehingga tidak perlu oper dan cukup berjalan kaki saja dari tempat turun.
Kesan pertama saya saat datang ke jajaran angkot-angkot: Ini mana yang mau berangkat duluan, mana yang orangnya lagi istirahat, mana yang ready?
Saya tengok dulu — yang sana kosong, yang dekat saya baru datang, kalau yang agak jauh beda jurusan. Okey, cukup berbeda dengan pengalaman saya dulu yang tinggal menunggu angkot untuk datang langsung. Bukan bingung, lebih ke was-was bilamana yang saya pilih tidak sesuai.
Saat saya mendekati angkot terpilih (angkot-destined, anyone?), Bapak Sopir yang umurnya 30-40-an itu segera mengarahkan saya untuk masuk. “Tiga lagi berangkat ya, tiga lagi berangkat.”
Belum ada penumpang lain, namun sudah ada kotak besar yang duduk di ujung angkot dan diselimuti karung. Sepertinya dagangan penumpang, tapi saya tidak menemukan pemiliknya. Lalu satu keluarga masuk. Lalu seorang ayah dan anak. Lalu seorang laki-laki merokok di depan anak kecil barusan. Syukurlah ketika saya pasang wajah galak dan kibas-kibas asap rokok supaya tidak kena anak kecil, dia langsung sadar diri untuk turun dan merokok sembari menunggu angkot berangkat.
Ternyata sudah beberapa penumpang hadir pun belum berangkat. Saya turun dan menemui sang sopir masih membersihkan bagian depan angkot dengan lap lusuh dan air yang dibagikan oleh tukang cilok di samping kami. Saya tidak sempat berbicara banyak, tetapi ketika beliau tahu saya membawa kamera, responnya hanya “Buat apa?” Syukurlah beliau mengizinkan saya memfoto selama tidak memperlihatkan wajah beliau — salah satu kemajuan peradaban terkait kesadaran privasi.
Angkot benar-benar berangkat ketika seorang perempuan masuk dengan tas carrier dan seorang laki-laki membawa subwoofer untuk mengamen. Di momen seperti ini saya ingin terjun dalam pengalaman secara imersif, sehingga saya tidak mengeluarkan handphone maupun membaca buku. Tenggelam dalam denting waktu berkendara, di tengah-tengah kota Malang usai diguyur hujan. Suasana menjadi cukup padat dan riuh dengan pertanyaan-pertanyaan kecil sang bocah kepada ayah, cerita nenek kepada cucu, hingga pengamen yang menyetel lagu-nya Rossa untuk memeriahkan perjalanan.
Saya turun setelah 10-15 menit perjalanan bersama dengan bapak pengamen. Dengan santainya beliau menatap saya dan melambaikan tangan, “Disek’an yo Mbak!”
Inklusif, tapi...
Pengalaman saya di atas cukup menjadi konten romantisasi bagaimana slow living bisa merangkak di tengah kehidupan masyarakat. Duduk bersama berbagai kalangan yang tidak dikenal dan cukup berbeda; diskursus-diskursus yang mungkin tidak bisa ditemui di ojol atau transum yang lebih masif di kota besar (Halo, pemilik kardus besar di angkot kemarin???) Harganya pun ironisnya masih terjangkau: Rp5.000 sekali jalan, jauh dekat.
Namun selayaknya nostalgia, bisa jadi saya juga menggunakan rose colored glass atau melihat hanya dari baik-baiknya sebagai orang yang baru sekali menggunakan kembali transum. Bisa jadi saya abai — atau terhindar dari isu-isu seperti:
- Jambret di era Industri 5.0 yang tentu bisa jadi makin galak karena krisis ekonomi makin-makin,
- Pelecehan di ruang publik — dulu sewaktu saya masih SMP, teman saya pernah ditarik baju oleh sopir saat hendak turun dari angkot,
- Premanisme yang bisa terjadi kapanpun, mengingat target penumpang dari angkot mostly dari masyarakat biasa yang mungkin tidak punya akses perlindungan,
- Tentunya waktu, karena angkot saya tidak ngetem terlalu lama pun juga jarak tempuh saya dekat.
Jika ditinjau dari poin-poin di atas, mudah untuk menyimpulkan jika “Hal itu terjadi dikarenakan semua orang bisa naik angkot!” Tidak jarang banyak yang akhirnya menghindari angkot atau transum lokal karena dirasa beberapa kelas ekonomi cenderung identik dengan aktivitas premanisme atau kriminal.
Padahal hal ini, menurut saya sebagai pengguna, dimulai dari pemerintah yang tidak pernah menaiki transum itu sendiri.
Eksklusivitas Tidak Pernah Punya Ruang Diskusi
Coba kita lihat, berapa kali figur pemangku kebijakan mengendarai transum selayaknya rakyat biasa selain di era kampanye? Jangan jauh-jauh yang transum lokal; saya belum pernah menemukan Pegawai Negeri Sipil atau pun pejabat yang duduk di Suroboyo Bus sebagai pilihan transum sehari-harinya.
Jika sudah seperti ini, rasa percaya masyarakat terhadap transum akan menurun dan muncul stigma “Kamu hanya naik angkot jika kamu tidak mampu.” Akibatnya, keamanan di transum lokal semakin tidak menjadi prioritas dan menjadi ladang subur untuk orang yang sudah berniat jahat di medan yang mendapatkan perspektif negatif.
Seandainya, ah seandainya! Keamanan di transum bisa ditingkatkan, seperti jaminan kesejahteraan sopir dan juga kernet, revitalisasi armada, hingga mungkin kerjasama dengan ‘preman’ agar bisa diatasi, bukan mengorbankan penumpang yang ‘tidak mampu’ naik ojol sebagai sasaran empuk.
Nggak perlu se-advance Singapore atau New York yang memiliki transportation hub yang canggih. Cukup nyaman untuk dudukdan bisa sampai ke tujuan tanpa perlu was-was dengan keselamatan diri.
My personal take? Saya percaya kota Malang, Surabaya, dan berbagai kota kecil lainnya berpotensi memakmurkan transum lokal yang sudah dipercaya bertahun-tahun oleh warganya. Saya juga percaya transum lokal tidak dikalahkan oleh ojol, mengingat sifat transum lokal yang massal dan juga akomodir. Saya berharap besar bahwa pemerintah bisa memberi perhatian lebih kepada para armada dan juga sistem transum yang lebih baik, lebih aman, dan lebih inklusif.
Datang dengan tas punggung dan botol minum, duduk di sebelah ibu yang menggendong anak, berseberangan dengan murid SMA yang belajar untuk ujian hari ini. Mengangkat headphone untuk menyetel musik lo-fi diiringi dengan lagu khas sopir, "Tiga lagi berangkat! Tiga lagi berangkat!"
Cheers.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih telah berkunjung. Sila untuk bertandang kembali bilamana saya membalas :)