Silaturahmi dengan Putra-Putri Air Terjun, Coban Lanang dan Coban Putri Batu

Ada yang bilang Indonesia saat ini sedang krisis petani.

Klaim tersebut dibuat ketika demografi usia produktif dianggap tidak mau meneruskan profesi petani. Kurang bergengsi, kurang mantap, hingga alasan-alasan yang cenderung klasis dilontarkan dan menjadi argumen populer di era swasembada pangan adalah jargon masa lalu.

Entah benar atau tidaknya bukan tujuan utama dari artikel ini. Yang jelas, saya mau berterima kasih kepada pemuda-pemudi yang memilih bergerak dalam melestarikan tempat wisata lokal di Batu. Dua nama coban — atau air terjun — yang kurang populer dan dipertanyakan; saya sempat ragu untuk mengunjungi dua tempat ini sebagai wisatawan tunggal, perempuan lagi.

Saya bersyukur saya salah — Coban Lanang dan Coban Putri adalah real hidden gems yang harus dikunjungi minimal sekali saat mampir ke Batu.

Coban Lanang adalah Bukti Wisata Lokal Membuka Peluang

Coban Lanang bertempat di Desa Pandanrejo, Bumiaji, Kota Batu. Menariknya, air terjun ini bertempat di salah satu jalan utama jika kamu adalah wisatawan luar kota yang hendak menuju kota Batu. Di sebelah kiri kamu akan melihat tulisan besar “COBAN LANANG” dan bisa diakses menggunakan mobil atau pun motor.


Jika kamu mengendarai motor, kamu bisa terus melaju hingga parkir di samping pintu masuk wisata. Bagi pengendara roda empat bisa parkir di tempat yang disediakan dan menaiki shuttle yang disediakan. Jujur, ini keren. Sebuah tempat wisata alami yang menyediakan layanan angkutan bagi pengguna sangat chef’s kiss.


Bukan tanpa alasan saya mengapresiasi layanan wisata Coban Lanang: Sepanjang perjalanan menuju pintu masuk akan akan disuguhi perkebunan bunga dan sayuran milik warga yang sangat cantik! Udaranya segar serta kamu bisa mendengar air mengalir jika berkendara pelan. Rugi jika kamu tetap ngotot mau mengendarai mobil, ditutup, dan menggunakan AC.


Di tengah rute menuju wisata, kamu bisa menemukan “Kafe Ubi” yang terletak di tengah perkebunan. Suguhan hangat di tengah sejuknya kota Batu tentunya bisa menjadi alternatif untuk menyendiri namun tetap kenyang.


Bunga-bunga cantik ini siap menyapamu di perjalanan menuju Coban Lanang

Dimanjakan Fasilitas Dan Aksesibilitas Sekelas Resor Mini

Saat masuk pun saya cukup terkejut — tempatnya benar-benar bagus! Bisa dibilang saya seperti masuk ke sebuah resort yang sesuai dengan slogan mereka: Eco Resort. Biaya masuk hanya Rp20.000 di saat libur lebaran, kamu akan mendapati banyak sekali kursi-kursi yang aman untuk duduk, kolam renang untuk bocah, serta kafe yang nyaman dan bukan cuma sekadar ‘ada’. Kamar mandi serta musholla pun tersedia.


Ini sih juara banget, menurut saya. Jika kamu lihat di Google Maps, kamu akan menemui foto-foto sederhana dari pengunjung tentang air terjunnya. Mereka tidak bicara bagaimana resor ini bersih, rapi, well-built, dan saya yakin juga memberdayakan masyarakat lokal. Saya sangat senang melihat bagaimana wisata yang mungkin “Oh ada air terjun” berubah menjadi “Yuk bersantai di samping air terjun!



Kalau pun kamu bukanlah penikmat alam secara langsung, tidak ada salahnya duduk dan mendengarkan gemericik suara sungai atau berenang di kolam dengan air yang sangat bening. Kamu juga bisa menyeruput kopi hangat di balkon kafe yang menawarkan suasana adem bersama keluarga atau sendirian.


Inilah kekuatan dari Coban Lanang; lokasi ini didesain untuk menjadi tempat singgah, bukan sekadar foto-foto estetik. Pangsa pasar keluarga yang mungkin tidak terlalu ingin berjalan jauh seperti kakek-nenek yang ikut liburan bisa ikut tercapai. Great job!


Akan ada banyak sekali kursi-kursi nyaman untuk duduk dan mendengarkan air terjun... atau meditasi.

’Dua Muka’ Air Terjun dengan Karakter Berbeda

Ada dua ‘pintu’ air terjun. Pertama air terjun ‘tampak belakang’. Saat saya masuk ke pintu, seolah kembali ke sebuah dunia berbeda — alam bebas namun tetap diperhatikan. Tidak ada paving cantik atau sepeda yang dipenuhi bunga aster. Coban ‘Tampak Belakang’ memintamu menjejak tanah dengan ajeg (sambil berpegangan railing juga boleh) agar bisa sampai ke tempat utamanya.


Di sini kamu bisa melihat Coban Lanang benar-benar tanpa filter — retakan tebing, serpihan embun yang menyapa hidungmu, hingga suara hantaman air dengan batuan yang menggelegar tanpa mengintimidasi. Saya berdiam diri sekitar 30 menit di sini untuk mendengarkan gejolak Coban Lanang yang hadir seutuhnya tanpa perlu dijinakkan.




Meskipun tempat ini powerful, tetapi saya sarankan tetap menjaga anak-anak karena pagarnya cukup ‘apa adanya’. Saya bisa bilang aman, tetapi tidak ada salahnya harus tetap diawasi. Terdapat tangga yang menuju ke sungai dan perlu diperhatikan bahwa pengunjung dilarang turun dan bermain di sungai.


Selanjutnya saya menuju ke wahana utama selanjutnya: Coban ‘Tampak Depan’. Jalur menuju tempat ini menawarkan kamu kesempatan bermain air di sungai kecil yang masih menjadi bagian dari resor. Kamu bisa menikmati gemericik air dengan mencelupkan kakimu di tepi sungai! Tetap berhati-hati dan jangan sampai ke tengah karena risiko untuk hanyut.


Setelah melewati jembatan kayu, kamu akan menemui kebun yang dikelilingi dengan banyak tanaman, bahkan terkesan overgrown. Saya paham niatnya mungkin untuk menampilkan kesan alami, tetapi cukup banyak gulma yang justru tidak estetik, kecuali jika hendak memperkaya ekosistem. Saat saya lewat pun cukup bau sampah atau busuk, sehingga mungkin perlu mendapat perhatian lebih.


Surprisingly, Coban Lanang ‘Tampak Depan’ justru mengharuskan saya untuk turun melewati puluhan anak tangga yang lebih curam dari ‘Tampak Belakang’ sebelum sampai ke sebuah lahan luas untuk berfoto dari jauh. Di sini, kamu bisa melihat Coban Lanang kota Batu secara utuh beserta sungai yang dialirinya.




Lokasi ini pas untuk mengabadikan dokumentasi! Menurut saya, adanya plaform yang cukup lebar secara alami ini lebih aman dibandingkan harus membuat jalur mendekati air terjun. Bahayanya cuma satu: Terpeleset di tangganya! Ternyata barefoot sandal Pyopp Fledge saya belum beruntung dan teruji untuk semen yang licin hahahah!



Entah karena keseringan saya pakai, atau emang gak begitu 'menggigit'


Tempat ini buka pukul 08.00 dan tutup 16.00 serta tidak langsung bersinggungan dengan rumah warga, sehingga cukup aman karena dipantau oleh petugas wisata Coban Lanang. Sebagai seorang wisatawan perempuan seorang diri, saya bisa bilang menikmati sekali tempat ini!


Coban Putri Justru Menyeleksi Mana Yang Benar-benar Esensial

Berbalik arah sekitar 10 kilometer barat daya, saya bersilaturahmi dengan salah satu coban kecil lain: Coban Putri. Saya sudah pernah ke sini tahun 2014 dan wah, dulu benar-benar seperti trekking ke hutan nun jauh di sana. Menawarkan sensasi ekstrim yang dibutuhkan jika kamu ingin mengikuti jejak tokoh utama buku Walden yang mencari ketenangan di alam. Beralaskan lumpur dan juga membawa botol minum menjadi wajib karena tidak ada siapa pun kecuali warga lokal saat itu.


Namun beberapa waktu silam, saya melihat ada banyak pergerakan restorasi coban-coban di Batu hingga menjadi tempat yang ‘hip’ dan ramah bagi semua kalangan. Salah satunya adalah Coban Putri. Digambarkan menjadi wisata dimana kamu bisa foto-foto estetik di ujung tangan raksasa!


Well, rupanya hal ini menjadi kasus menarik karena apa yang saya tangkap sangat berbeda. And it’s for the better one.



Coban Putri yang bertempat di Jalur Lingkar Barat (Jalibar) Oro-oro Ombo, Kota Batu ini terbukti lebih jago menawarkan ketenangan. Di posko masuk, kamu membayar Rp10.000 untuk masuk dan Rp5.000 untuk parkir roda dua dan selanjutnya: Memasuki gunung! Ya, tidak jauh berbeda rupanya dengan 10 tahun silam. Bedanya jalan lebih aksesibel untuk motor maupun mobil sehingga kamu tidak perlu menitipkan motor di rumah warga.


Di situlah saya sadar seleksi alam Coban Putri: Saya melihat spot foto ‘hip’ seperti ayunan raksasa, meja wisata, serta ‘tangan raksasa’ tersebut ditutup dan… terbengkalai. Tidak ada lagi foto dari belakang yang menampilkan kamu menaiki ayunan di tengah lembah. Tangan raksasa kini layu dimakan debu.

Elemen Alam yang Tidak Perlu Diikut Campuri, Hanya Difasilitasi

Coban Putri memberikan nilai jual yang berbeda: Tempat berkemah dan wisata alam yang benar-benar memaksamu untuk basah atau pun mencelupkan diri ke air.


Wisata ini berbagi tempat dengan Tanarasa Glamping (mungkin part of, ya) dimana kamu bisa tidur di tengah kicauan burung dan juga gelegar air terjun. Pun menariknya, air terjun ini juga sudah dipugar demikian rupa agar tetap alami namun tidak membahayakan: beberapa sungai kecil dibentuk menjadi bendungan alami sebagai spot foto serta tempat merendam kaki yang nyaman!



Bendungan yang cantik, dulu belum ada



Di sini kamu juga sudah bisa menemukan kamar mandi yang layak, tempat makan yang nyaman (jangan lupa buang sampah di tempatnya!), serta tentunya wisata alam seperti panjat tebing air terjun hingga offroad dan ATV! Jangan takut berbasahan, sepertinya itulah motto para pengelola di sini!


Dengan branding “Waterfall Eduforest”, Coban Putri bergerak ke arah yang berbeda dari Coban Lanang. Alam tidak diikutcampuri, cukup difasilitasi. Bagaimana air terjun tetap aman namun tidak menghilangkan potensi alamiahnya. Bagaimana pengunjung diajak untuk mengapresiasi alam apa adanya, tanpa perlu kursi-kursi Informa yang mewah di sampingnya.


Cobalah untuk menyebrang sungai dengan menyingsingkan sedikit ujung celana di atas mata kaki dan rasakan gelitik aliran sungai di ujung jarimu. Petiklah tanaman pegagan atau yang biasa kamu kenal sebagai Centella asiatica serta alirkan lagi ke sungai agar dia kembali ke alam. Berfoto di depan bendungan kecil dimana kamu bisa berdiri di atas kerikil yang kokoh. Dengarkan suara kicauan burung hingga desiran angin yang berkelok di antara pohon pinus.





Atau kamu bisa duduk di ayunan maupun rumah pohon, dan melihat semuanya secara holistik serta bersatu dengan Coban Putri.

Potensi Besar, Asal Seimbang

Saya sangat senang kedua coban ini diminati oleh berbagai kalangan berbeda, tentu dengan pangsa pasar berbeda pula. Mungkin saya belum terlalu tahu pasti, tetapi bagi mereka yang pergi ke Coban Putri utamanya berani untuk berbasah-basahan hingga menginap berkemah di bawah bintang-bintang. Saya lihat bagi yang ke Coban Lanang umumnya keluarga dan menikmati waktu santai di kafe yang tersedia.


Apa yang bisa kita dapatkan? Tentunya wisata-wisata alam tersebut memiliki potensi besar. Saya senang kota Batu tidak lagi FOMO — dibuktikan dengan menyerahnya pengelola Coban Putri mengurus tangan raksasa, hehe — tetapi tetap berdaya dengan kekuatan masing-masing tempat wisata.


Saya cukup sedih ketika melihat beberapa komentar di Google Maps seperti, “Ke sini aja kok Rp20.000?” Maksud saya — kopi Tuku lebih mahal dari itu. Sedangkan wisata-wisata ini memberdayakan masyarakat lokal dan memberimu pengalaman yang berbeda dari biasanya. Saya harap kota Batu tidak discouraged dengan komentar demikian dan tetap menjalankan perannya sebagai pengelola wisata.


Potensi lainnya tentu adalah melibatkan warga sekitar dan juga anak-anak muda di daerah. Saya tidak tahu pasti apakah mereka warga lokal, namun saya senang melihat banyak petugas adalah anak muda yang knowledgeable. Saya mungkin sudah di usia yang menganggap saya sudah tua (padahal baru mau 30 tahun), tetapi menarik bagaimana mereka mendedikasikan waktu untuk mengedukasi pengunjung dan memastikan kami mendapatkan layanan terbaik!



Peran pengelola wisata juga tidak berhenti di ‘memberdayakan’, tetapi juga ‘menjaga.’ Layaknya Coban Putri yang akhirnya fokus ke pengalaman ekologis, saya harap empowerment tidak berubah menjadi exploitation.


Cheers!

Akomodasi

Coban Lanang

Dari Tol Singosari:

Keluar dari tol Singosari, ambil jalan lurus terus ke arah Batu. Ikuti jalan berkelok hingga setelah jembatan kamu menemukan gapura “SELAMAT DATANG DI KOTA BATU”. Teruslah melaju hingga sebelah kiri ada tulisan “COBAN LANANG”. Ikuti gang masuk dan kamu akan menemukan lapangan terbuka. Parkir mobil roda 4 ada di lapangan ini, dan shuttle akan tersedia (kemungkinan jika di akhir pekan). Petugas parkir sudah tersedia sehingga dijamin keamanannya.


Untuk motor silakan ikuti terus ke arah sesuai papan petunjuk dengan jalan yang sudah aman dan rata.


Kafe Ubi ada kiri jalan di tengah jalur menuju Coban Lanang.


Tiket per Maret 2026 adalah Rp20.000 per orang. Musholla dan kamar mandi bersih. Ada kafe dan wi-fi serta kolam renang untuk anak.

Coban Putri

Dari Universitas Brawijaya/Universitas Muhammadiyah Malang

Terus ikuti Jalan Tlogomas dan melaju ke arah Batu. Belok di pertigaan untuk masuk ke Jalan Diponegoro, Kota Batu. Ikuti jalan dan masuk ke arah Jl. Junrejo hingga masuk ke Jalan Lingkar Barat. 


Di tengah pertigaan antara Jalur Lingkar Barat dan Jalan Rasemun ada jalan naik dan tulisan Coban Putri.


Tiket masuk: Rp10.000, parkir motor R2 Rp5.000. Ikuti jalan terus masuk melewati lajur tanah. Bisa diakses oleh mobil dan motor.


Parkir di dekat air terjun sudah tersedia baik bagi motor maupun mobil. Parkir yang sama juga berlaku untuk wisatawan glamping. Tersedia air bersih, kamar mandi bersih, ruang ganti, serta warung makan.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung. Sila untuk bertandang kembali bilamana saya membalas :)